Pengertian Green Marketing | Tujuan, Kendala dan Pengaruhnya di Indonesia

Pengertian Green Marketing– Istilah green marketing “pemasaran hijau” sebagai salah satu usaha strategis dalam menciptakan usaha yang berbasis lingkungan dan kesehatan telah dikenal pada akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an. Terdapat banyak istilah mengenai green marketing, antara lain environmental marketing, ecological marketing, sustainable marketing, greener marketing dan societal marketing “Prakash, 2002”.

Green marketing berkembang sejalan dengan adanya perhatian masyarakat akan isu-isu lingkungan, sehingga masyarakat menuntut adanya tanggung jawab dari pelaku bisnis dalam melakukan aktivitas bisnis.

Pengertian Green Marketing

Dilansir dari laman Small Business Chrongreen marketing adalah salah satu proses marketing yang di dalamnya mengacau pada lingkungan. Jadi, proses marketing tersebut harus mempunyai keuntungan untuk lingkungan atau alam disekitarnya. Itu artinya, strategi pemasaran ini dilakukan dengan tidak merusak alam dan lingkungan.

Selain itu, produk yang dipromosikan dengan metode green marketing ini haruslah produk yang ramah lingkungan. Dalam proses produksinya pun tidak boleh merusak lingkungan.

Contohnya adalah produk yang bebas dari komponen yang bersifat racun untuk lingkungan, atau produk yang bisa didaur ulang sera dibuat dari bahan daur ulang. Atau bisa juga produk yang dibuat agar bisa digunakan lagi.

Pada intinya, green marketing mempunyai tujuan untuk menjaga keberlangsungan alam. Untuk itu, produk yang dipasarkan dengan menggunakan strategi ini juga haruslah produk yang ramah lingkungan.

Sejarah Singkat Dari green marketing

Pada tahun 1986, Jay Westerveld, seorang aktivis lingkungan dari New York, menulis esai tentang perilaku bisnis terhadap pernyataan bahwa mereka adalah orang-orang bisnis yang ramah lingkungan (Green Business).

Westerveld menyimpulkan bahwa meskipun banyak hotel mengklaim ramah lingkungan dengan program seperti penggunaan kembali handuk dan program daur ulang.

Ddalam implementasinya banyak dari program ini tidak berjalan dengan baik karena tidak memberikan manfaat yang signifikan bagi bisnis.

Istilah Green Marketing mulai menonjol pada akhir 1980-an dan awal 1990-an. American Marketing Association (AMA) mengadakan lokakarya pertamanya tentang “Pemasaran Ekologi” pada tahun 1975.

Dampak dari lokakarya ini menghasilkan salah satu buku pertama berjudul “Pemasaran Pemasaran” Ekologi Pemasaran “muncul.

Gelombang pertama Green Marketing terjadi pada 1980-an, Laporan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) dimulai dengan penjual es krim Ben & Jerry di mana laporan keuangan dilengkapi dengan pandangan yang lebih besar tentang dampak lingkungan perusahaan.

Pada tahun 1987 sebuah dokumen yang disiapkan oleh Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai:

“pemenuhan kebutuhan sekarang tanpa mempengaruhi kemampuan generasi di masa depan untuk pemenuhan kebutuhan mereka sendiri”, ini dikenal sebagai Laporan Brundtland dan langkah menuju luas berpikir menuju keberlanjutan dalam kegiatan sehari-hari.

Dua tonggak nyata untuk gelombang 1 Green Marketing datang dalam bentuk buku yang diterbitkan, baik yang disebut Green Marketing oleh Ken Peattie (1992) di Inggris dan oleh Jacquelyn Ottman (1993) di Amerika Serikat (AS).

Tujuan Green Marketing

John Grant mengatakan bahwa tujuan green marketing terbagi menjadi tiga tahapan utama. Pertama adalah green, yang bertujuan untuk menyebarkan informasi bahwa perusahaan tersebut adalah perusahaan yang sangat peduli pada lingkungan.

Kedua adalah greener, tujuannya adalah untuk melakukan komersialisasi sebagai tujuan yang paling utama untuk perusahaan, dan juga untuk mencapai tujuan yang berdampak pada lingkungan hidup. Terakhir, greenest, manajemen perusahaan berusaha untuk mengubah budaya konsumen ke arah yang lebih peduli pada lingkungan hidup yang ada di sekitarnya.

Kendala Green Marketing

Dalam proses menerapkan konsep green marketing, terdapat beberapa masalah yang kemungkinan besar bisa terjadi. Berikut ini adalah kendala dalam menerapkan green marketing seperti yang dijelaskan oleh Polonsky.

  1. Perusahaan yang menerapkan konsep ini harus yakin bahwa kegiatan yang dilakukannya tidak menyesatkan konsumen dan juga industri, serta tidak melakukan pelanggan pada aturan atau hukum yang berlaku.
  2. Ketika perusahaan memodifikasi produk sesuai dengan permintaan ataupun persepsi konsumen, ternyata produk tersebut tidak lebih baik dari produk yang sebelumnya karena memiliki kesalahan persepsi. Untuk itu, perusahaan wajib mempunyai pengetahuan yang baik, sehingga bisa mengambil langkah yang tepat terhadap lingkungannya.
  3. Peraturan pemerintah yang dibuat untuk memberikan peluang pada para konsumen untuk membuat keputusan yang lebih baik, atau untuk memotivasi mereka agar bisa lebih bertanggung jawab pada lingkungan hidup yang ada di sekitarnya.

Pengertian Green Marketing

Apa Manfaat Green Marketing?

Di beberapa negara di dunia, green marketing saat ini sudah menjadi suatu kebutuhan utama, seperti di Kanada, Australia, dan juga India. Bahkan, 25% masyarakat India percaya bahwa cara ini sangat penting untuk menjaga keberlanjutan bumi di masa depan.

Lalu, apakah ada hal lain yang mampu membuat metode marketing ini layak untuk diterapkan? Jawabannya ada. Dengan menerapkan metode ini, maka secara tidak langsung suatu perusahaan akan lebih mengedepankan keharmonisan alam. Hal ini juga bisa diwujudkan dengan menggunakan energi dan desain bangunan yang ramah lingkungan.

Selain itu, ada beberapa alasan lainnya kenapa perusahaan harus bisa melakukan investasi pada metode ini, yaitu:

  1. Produk Akan Lebih Awet

Suatu produk yang melalui proses green marketing umumnya mampu tahan lebih lama daripada produk lainnya. Hal tersebut dikarenakan proses pembuatannya yang melibatkan bahan ramah lingkungan. Selain itu, produk juga bisa di daur ulang kembali.

Inilah yang paling membedakan produk green marketing dengan produk lainnya yang mungkin hanya bisa digunakan sekali saja tanpa bisa di daur ulang.

Alasan tersebut pula yang membuat Nielsen Global Survey berpendapat bahwa banyak orang yang rela untuk membayar lebih mahal untuk produk green marketing. Berdasarkan survey yang dilakukan pada 30.000 orang tersebut,  55% diantaranya rela untuk membayar produk green marketing lebih mahal.

Alasannya karena walaupun mereka harus mengeluarkan uang lebih banyak, namun produk tersebut bisa tahan lebih lama.

  1. Biaya yang Dikeluarkan Lebih Sedikit

Seperti yang sudah kita jelaskan sebelumnya, dalam menjalankan strategi pemasaran ini, perusahaan harus bisa memastikan seluruh proses produksinya dilakukan secara ramah lingkungan, pun dalam hal menggunakan energi.

Pemanfaatan energi yang ramah lingkungan umumnya lebih hemat dalam jangka waktu yang panjang. Untuk itu, perusahaan bisa sedikit memangkas pengeluarannya dalam hal energi.

  1. Mengubah Pola Pikir Soal Lingkungan

Pihak konsumen bukanlah satu-satunya pihak yang harus memperdulikan seluruh efek bagi lingkungan. Metode green marketing pun harus mendorong setiap pebisnis ataupun perusahaan untuk bisa memanfaatkan sumber daya alam secara seharusnya, seperti dalam hal konsumsi listrik dan air.

Secara tidak langsung, metode ini mampu mengubah pemikiran kita terkait lingkungan. Beberapa contoh sederhananya adalah mencari bahan pokok yang terbarukan, menemukan cara untuk mengirimkan produk dengan suatu cara yang lebih hemat bahan bakar, serta menggunakan sumber energi alternatif lainnya.

Pengaruh Green Marketing Dalam Bisnis

Umumnya, konsep pemasaran green marketing ini hanya dilakukan oleh perusahaan yang memiliki komitmen tinggi. Khususnya komitmen terkait pembangunan berkelanjutan dan juga tanggung jawab sosial.

Dewasa ini, sudah banyak perusahaan yang berusaha untuk bisa menerapkan bisnis yang lebih ramah lingkungan. Untuk it, mereka membuat produk yang lebih menarik untuk konsumen, sekaligus mengurangi biaya pengemasan, penggunaan air dan listrik, efisiensi biaya transportasi, dan lain sebagainya.

Selain itu, sebenarnya perusahaan bisa mendapatkan keuntungan yang lebih banyak dengan menerapkan green marketing sebagai tanggung jawab sosial tingkat tinggi. Sehingga, hal tersebut mampu mendorong loyalitas mereka di antara para konsumen yang sadar akan lingkungannya.

Penerapannya di Perusahaan Indonesia

Untuk di negara kita sendiri, saat ini sudah banyak perusahaan yang menerapkan metode green marketing. Bahkan, Kementerian Perindustrian pun pernah memberikan penghargaan industri hijau untuk 69 perusahaan di Indonesia.

Berdasarkan penilaian pemerintah, industri hijau adalah industri yang menggunakan berbagai bahan kimia ramah lingkungan dan mampu menerapkan 4R (reduce, recycle, reuse, dan recovery) pada setiap proses pembuatan produknya.

Selain itu, perusahaan tersebut juga umumnya menggunakan energi listrik dan air yang jauh lebih rendah. Dan yang lebih penting lainnya adalah ke 69 perusahaan tersebut mampu meminimalisir limbah dan menggunakan teknologi yang minim zat karbon.

Ke 69 perusahaan tersebut kebanyakan adalah perusahaan besar Indonesia, diantaranya adalah perusahaan Tirta Investama, Pupuk Kaltim, Unilever, Petrokimia Gresik, sampai Sinar Sosro.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.